Mealeva
Beranda Blog Panduan Gizi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sekolah
Panduan Gizi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sekolah
Tips

Panduan Gizi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sekolah

ADM
ADM

Acuan Praktis Ahli Gizi dalam Merancang Menu MBG Sesuai Regulasi BGN

Peran ahli gizi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar menyusun daftar menu. Di setiap SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi), ahli gizi bertanggung jawab memastikan setiap sajian memenuhi standar gizi yang ditetapkan regulasi, aman dikonsumsi, dan realistis secara anggaran. Artikel ini merangkum acuan-acuan kunci yang perlu dipahami.


Dasar Regulasi: Juknis BGN 2025-2026

Penyusunan menu MBG tidak bisa dilakukan berdasarkan perkiraan. Seluruh ketentuan teknis diatur dalam Keputusan Kepala BGN RI No. 401.1 Tahun 2025 tentang Petunjuk Teknis Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG Tahun Anggaran 2026. Poin utamanya:

  1. Menu wajib mengacu pada standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) Kementerian Kesehatan
  2. Memenuhi 20-25% kebutuhan energi harian untuk makan pagi, dan 30-35% untuk makan siang
  3. Menu harus memperhatikan keseimbangan zat gizi makro dan mikro: karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral
  4. Penggunaan bahan pangan lokal diperbolehkan sepanjang memenuhi standar gizi yang ditetapkan
  5. Makanan harus aman, higienis, dan diolah sesuai SOP keamanan pangan BGN


Standar AKG per Kelompok Sasaran

Berikut acuan nilai gizi per porsi MBG yang wajib dipenuhi, berdasarkan kelompok sasaran dan waktu pemberian:

Kelompok SasaranEnergi (kkal)Protein (gr)Lemak (gr)Karbohidrat (gr)Waktu
Siswa TK/PAUD32825,023,720,9Makan pagi
Siswa SD kelas 1-3368,823,124,120,1Makan pagi
Siswa SD kelas 4-653133,130,931,0Makan siang
Siswa SMP/MTs71934,830,730,8Makan siang
Siswa SMA/SMK/MA762,536,431,030,4Makan siang
Ibu Hamil81840,432,131,9Makan siang
Ibu Menyusui81852,932,230,8Makan siang
Anak Balita34247,621,620,6Makan siang

Sumber: BGN, 2025

Perhatikan bahwa kebutuhan protein ibu menyusui (52,9 gr) jauh lebih tinggi dari kelompok lain - ini perlu diperhitungkan secara khusus saat menyusun menu untuk SPPG yang melayani lebih dari satu kelompok sasaran.


Komponen Menu yang Wajib Ada

Setiap sajian MBG harus terdiri dari komponen lengkap sesuai prinsip gizi seimbang:


1. Makanan Pokok

Sumber karbohidrat utama. Tidak harus nasi - bisa disesuaikan dengan pangan lokal seperti singkong, sagu, atau jagung, selama nilai gizi terpenuhi.


2. Lauk Hewani

Sumber protein hewani berkualitas tinggi: telur, ayam, ikan, atau daging. Pilih bahan yang tersedia dan terjangkau di wilayah SPPG masing-masing.


3. Lauk Nabati

Tempe dan tahu adalah pilihan utama - murah, bergizi, dan familier bagi anak-anak Indonesia. Kombinasi lauk hewani + nabati dalam satu menu membantu memenuhi target protein tanpa membebani anggaran.


4. Sayuran

Minimal satu jenis sayur per porsi. Prioritaskan sayuran berwarna (hijau gelap, oranye) sebagai sumber vitamin A, zat besi, dan serat.


5. Buah

Sumber vitamin C dan serat. Pilih buah lokal musiman untuk efisiensi biaya.


6. Susu (opsional, sesuai ketersediaan)

BGN menerbitkan Juknis khusus tentang standar penyediaan dan distribusi susu dalam MBG. Jika tersedia, susu dapat dimasukkan sebagai sumber kalsium tambahan, terutama untuk kelompok TK/SD.


Hal yang Sering Terlewat: Penanganan Alergi

Regulasi BGN mengatur bahwa anak dengan riwayat alergi berhak mendapatkan menu substitusi bernilai gizi setara. Ahli gizi di SPPG bertanggung jawab menyiapkan alternatif ini. Artinya, dalam setiap perencanaan menu, perlu ada daftar bahan pengganti siap pakai untuk alergen umum seperti telur, udang, dan kacang.

Pastikan sistem pencatatan alergi anak sudah terintegrasi antara sekolah dan SPPG sebelum distribusi dimulai.


Pengawasan Mutu: Tanggung Jawab Berkelanjutan

Menyusun menu yang memenuhi standar baru setengah dari pekerjaan. BGN menekankan bahwa pengawasan mutu harus berjalan sepanjang siklus program - bukan hanya saat perencanaan.

Beberapa hal yang perlu dimonitor secara berkala:

  1. Kesesuaian porsi aktual dengan standar AKG yang direncanakan
  2. Tingkat sisa makanan sebagai indikator penerimaan menu oleh anak
  3. Kondisi penyimpanan dan pengolahan bahan makanan
  4. Rotasi menu untuk mencegah kebosanan yang menurunkan konsumsi

Dalam konteks ini, sistem pencatatan yang rapi - idealnya berbasis digital - sangat membantu ahli gizi dalam mendokumentasikan dan mengevaluasi kualitas menu secara konsisten.


Catatan Penting: Gap Antara Rencana dan Realisasi

Sebuah tinjauan gizi terhadap pelaksanaan MBG menemukan bahwa rerata energi yang tersaji (377 kkal) masih berada di bawah standar AKG untuk SD kelas 4-6 (531 kkal) - selisih sekitar 29%. Ini menunjukkan bahwa kesesuaian menu di atas kertas belum tentu tercapai di lapangan.

Ahli gizi perlu memastikan rantai antara perencanaan menu → pengadaan bahan → proses memasak → porsi yang disajikan berjalan konsisten. Pengurangan porsi di salah satu titik dapat berdampak signifikan pada pemenuhan gizi anak.


Penutup

Program MBG memberi ahli gizi peran strategis yang nyata: memastikan jutaan anak Indonesia mendapat asupan gizi yang tepat setiap hari. Dengan memahami regulasi BGN, standar AKG per kelompok sasaran, dan rantai pengawasan mutu, ahli gizi bisa menjalankan fungsinya secara efektif - bukan hanya memenuhi administrasi, tapi benar-benar berdampak pada tumbuh kembang anak.

Kelola perencanaan menu MBG lebih efisien dengan kalkulasi gizi otomatis dan pemantauan food cost di Mealeva.